Published with Blogger-droid v2.0.6
Senin, 16 Juli 2012
Sabtu, 16 Juni 2012
Pengaturan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan di Indonesia
Indonesia memiliki pengklasifikasian pendidikan kejuruan yang agak unik dan sedikit berbeda dengan yang diterapkan di negara lain. Secara keseluruhan, jenis-jenis pendidikan di Indonesia diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 15. Pasal ini berbunyi: “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.” Ada 3 jenis pendidikan yang masuk kedalam kategori PTK (pendidikan teknologi dan kejuruan) yaitu kejuruan, profesi dan vokasi.
16 Prinsip Pendidikan Vokasional dari Prosser
Filosofi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Pendidikan teknologi dan kejuruan berakar dari pemikiran dan filosofi yang telah berkembang di dunia ini sejak ribuan tahun yang lalu. Pendidikan jenis ini adalah kebutuhan dasar manusia yang berkembang seiring majunya peradaban manusia. Perkembangan pendidikan vokasi sangat tergantung pada perkembanganilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan vokasi harus adaptif dan fleksibel mengikuti perkembangan zaman. Pendidikan jenis ini akan terus berkembang di masa depan dimana peran SDM berkualitas semakin tinggi. Globalisasi juga akan sangat berperan karena penyediaan tenaga kerja berkualitas akan terjadi tanpa mengenal batas geografis. Berikut analisis perjalanan pendidikan vokasi dan relasinya dengan pendidikan teknologi dan kejuruan.
Mengukur Keberhasilan Pendidikan Vokasi
Sebagai insan pendidikan, kita harus selalu bertanya ke diri kita sendiri, sudahkah yang kita lakukan itu "berhasil"? Ini pertanyaan sangat penting agar kita tidak sekedar "terus bekerja" dan mengabaikan dampak apa yang kita kerjakan bagi masyarakat. Demikian juga dalam pendidikan vokasi atau di Indonesia sering diterjemahkan sebagai pendidikan kejuruan dan teknik. Berikut sedikit referensi yang saya kutip dari buku Foundations of Vocational Education yang ditulis oleh John Thompson (1973). Walau sangat "Amerika" namun dalam banyak hal konsep yang ditawarkan bersifat universal. Thompson beranggapan bahwa pendidikan vokasi harus diukur dari keberhasilan dan efisiensi ekonomi yang dihasilkan. Pendidikan vokasi adalah anak dari pembangunan ekonomi suatu bangsa. Pendidikan vokasi diselenggarakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Karenanya keberhasilan pendidikan vokasi harus dilihat dari sisi ekonomi. Efisienkah? Konsep pemikiran berbasis ekonomi ini telah dipakai sejak lama.
Definisi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Pendidikan teknologi dan vokasi (bisa juga diterjemahkan pendidikan teknologi dan kejuruan atau disingkat PTK) atau dalam istilah berbahasa Inggris technical and vocational education, menurut UNESCO Convention on Technical and Vocational Education, bermakna "... merujuk pada segala bentuk dan jenjang dalam proses pendidikan yang melibatkan pengetahuan umum, studi teknologi dan sains terkait, serta penguasaan ketrampilan praktik, pengetahuan, perilaku dan pengertian terkait pekerjaan dalam berbagai sektor ekonomi dan kehidupan sosial". PTK dapat disediakan oleh "... institusi pendidikan atau melalui program kerjasama yang diselenggarakan bersama oleh institusi pendidikan di satu pihak dengan berbagai pihak yang terkait dunia kerja dari industri, pertanian, komersial, dll". Jadi PTK adalah suatu bidang yang sangat luas karena bisa melibatkan berbagai pihak mulai dari institusi pendidikan (dan pelatihan), bisa yang berstatus negeri atau swasta, bisa berada dibawah kementrian/dinas pendidikan atau instansi teknis lain, bisa pula diselenggarakan oleh satu pihak atau kerjasama dua atau lebih pihak, bisa pula berbentuk pendidikan durasi panjang atau pelatihan durasi pendek.
Model Penyelenggaraan Unit Produksi SMK
Oleh Dr. Tawardjono Usman.
Unit produksi merupakan program pemerintah dalam upaya untuk memajukan SMK, jika sekolah telah berhasil melaksanakan unit produksi dengan baik, maka selanjutnya dapat mengarah menjadi teaching factory, yaitu sebuah program yang mengintegrasikan pembelajaran dengan proses produksi, sehingga siswa memiliki pengalaman langsung bekerja di industri dan diharapkan jiwa wirausaha mereka juga dapat berkembang.
Hasil penelitian diantaranya, dari 7 SMKN yang mempunyai program studi Otomotif dan menyelenggarakan unit produksi dengan baik, ternyata hanya 1 SMK yang terbukti berhasil dalam pengelolaan unit produksi dan berhasil menjadi teaching factory yaitu SMKN 2 Pengasih Kulon Progo. Selain itu ditemukan bahwa perencanaan unit produksi SMK bidang Otomotif di DIY belum dilaksanakan secara optimal. Pelaksanaannya pun belum sesuai dengan harapan karena minimnya prosedur operasional baku. Dalam pengawasannya juga masih bersifat insidental, sehingga perkembangan unit produksi dapat dikatakan masih jalan di tempat. Dukungan dari pemerintah, motivasi belajar siswa yang tinggi serta tanggapan masyarakat yang positif terhadap adanya unit produksi di SMK merupakan beberapa faktor pendukung keberhasilan pelaksanaan manajemen unit produksi di SMK. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan unit produksi diantaranya belum sinkronnya penanganan manajemen unit produksi antara Dinas Pendidikan dengan sekolah, sulitnya mensinkronkan jadwal teori di kelas dengan jadwal praktek di bengkel, kurangnya SDM yang berkualitas dan profesional yang menangani unit produksi, dan kurangnya penghargaan kepada guru pelaksana unit produksi.
Perkembangan Teknologi di Industri dan Pengaruh bagi Pendidikan Vokasi
Secara umum pendidikan vokasi adalah “industrial educators” yang berperan dalam desain dan implementasi program pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan proses produksi di industri. Jadi pendidikan vokasi sangat berkepentingan dengan perkembangan teknologi yang mempengaruhi dunia industri. Pendidikan vokasi harus mampu menjadi entitas yang dinamis dan mampu mengikuti perkembangan di dunia industri. Saat ini terlihat banyak kecenderungan bahwa penyelenggara pendidikan vokasi tidak mampu merubah diri secara cepat untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja di industri. Berikut contoh dari pengaruh 4 fase sejarah perkembangan teknologi terhadap pendidikan vokasi yang berorientasi pada dunia kerja. Belajar dari sejarah diharapkan bisa membuka mata para insan pendidikan vokasi dalam menyikapi keadaan yang terus berubah.Empat fase perkembangan industri berdasar perkembangan teknologi yang terjadi di dunia serta pengaruhnya terhadap pendidikan vokasi:
Pembiayaan Pendidikan Vokasi dan Contoh Kasus Beberapa Negara
Pembiayaan pendidikan adalah salah satu isu menarik dan penting dalam membangun pendidikan suatu bangsa. Kali ini saya mencoba menarik beberapa aspek esensial berkenaan pembiayaan pendidikan vokasi dan teknik yang ditulis dalam laporan proyek UNEVOC (International Project on Technical and Vocational Education) dari UNESCO tahun 1996. Laporan ini diberi judul Financing Technical and Vocational Education: Modalities and Experiences.
UPAYA LPTK-PTK DALAM MEMPERSIAPKAN CALON GURU RSBI
Lulusan perguruan
tinggi di Indonesia tidak secara cepat beradaptasi dengan kebutuhan dunia
industri modern. Berdasarkan hasil catatan Kepala Dinas Tenaga Kerja sampai
Desember 2006, sebanyak 22.220 sarjana dan S2 di DIY menganggur atau berstatus
pengangguran. Tantangan tenaga kerja ke depan juga semakin tinggi. Oleh
karenanya tenaga kerja harus memiliki kompetensi ganda (multiskill), inovasi mengakses informasi (hitech), dan mempunyai kondisi prima (Kompas, 28 Juli 2007).
Sementara upaya menjaga relevansi antara pendidikan dan industri seharusnya
jangan hanya dimaknai dengan mentransfer materi atau ketrampilan khas yang
dibutuhkan dunia industri ke lembaga pendidikan. Justru yang dibutuhkan oleh
industri ialah orang-orang yang mempunyai kemampuan berpikir, berkomunikasi,
berinteraksi sosial, dan bekerja dalam tim (Kompas, 3 November 2007).
Kamis, 14 Juni 2012
Hubungan Sekolah dengan Industri/Dunia Kerja
1. Pengertian
Hubungan sekolah dengan industri/dunia kerja diartikan sebagai jalinan kerjasama fungsional yang saling menguntungkan antara sekolah dan dunia kerja/industri dalam penyelenggaraan Diklat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai pada tahap evaluasi dan pemasaran tamatan.
UNIT PRODUKSI DI SMK
Unit Produksi
1. Pengertian
Unit produksi adalah aktivitas usaha sekolah terkait langsung atau tidak terhadap program Diklat, dalam upaya mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki agar memberikan nilai tambah yang lebih besar untuk mendukung pelaksanaan program sekolah.
BIMBINGAN KEJURUAN DI SMK
Pengertian
Bimbingan kejuruan adalah sebagaimana yang dimaksud Kepmen Dikbud nomor 0490/U/1992, pasal 25 dan 26 yaitu meliputi bimbingan secara umum dan karir kejuruan.
Tujuan
Bimbingan kejuruan pada SMK bertujuan memberikan layanan kepada:
Rabu, 06 Juni 2012
“Rekonstruksi Pendidikan Vokasi (SMK)”
Sebuah Gagasan
Dosen: Prof. Muchlas Samani
http://smkfuture.blogspot.com/2011/02/rekonstruksi-pendidikan-vokasi-smk.html
Dalam melakukan rekonstruksi SMK maka perlu terlebih dahulu penulis ungkapkan
- SMK dan Landasan filosofis
- Permasalahan SMK
- Kebijakan UU/peluang/tantangan/kelemahan/kekuatan (Analisis SWOT SMK)
- Rancangan/rekonstruksi SMK
Kamis, 26 April 2012
CHAPTER REPORT: IDENTIFYING AND SELECTING CURRICULUM MATERIALS
BUKU
CURRICULUM DEVELOPMENTIN VOCATIONALAND TECHNICAL EUCATION OLEH
CURTIS R. FINCH AND JOHN R. CRUNKILTON
BOSTON, LONDON, SYDNEY: ALLYN AND BACON INC
Disusun
Oleh :
Nama: Didit Yantony
NIM: 1102515
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kondisi riil di tempat kerja sangat
dibutuhkan dalam proses pembelajaran, hal ini dikarenakan bisa langsung dilihat
oleh siswa maupun siswa dapat terlibat langsung di dalamnya. Jika siswa melihat
langsung maka tentu akan memudahkan bagi mereka untuk menangkap pesan yang ada.
Jika siswa terlibat langsung maka hal ini akan membuat siswa mempunyai
pengalaman belajar yang sangat mendalam dan siswa akan dengan mudah menjelaskan
pengalaman tersebut. Demikian halnya jika seorang pengajar yang menjelaskan
suatu proses namun hanya berbicara saja, maka tentu saja siswa tidak akan
tertarik dan siswa juga akan sulit memahaminya. Lain halnya jika pengajar
menjelaskan suatu proses dan hal ini dilakukan pada kondisi aktualnya, maka siswa
akan sangat terbantu sekali dalam memahami proses tersebut karena siswa dapat
melihat langsung proses tersebut.
CHAPTER REPORT: PLANNING THE CURRICULUM MAKING DECISION IN PLANNING THE CURRICULUM
BUKU
Edit by : Curtis R. Finch & John R. Crunkilton
Disusun untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi
kejuruan (KJ 703) yang diampu oleh Prof. Dr. H. As’ari
Djohar, M. Pd
Oleh :
Nelly
Syarifah
1102640
BAB I
PENDAHULUAN
TINJAUAN UMUM DAN IDENTITAS
CHPATER
1.1 Pendahuluan
Definisi
dari kurikulum secara sederhana adalah sekumpulan mata pelajaran yang harus
dikuasai oleh peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum
memiliki tujuan untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
GURU DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugasMata kuliah Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan yang diampu oleh Prof.
Dr. H. As,ari Djohar, M.Pd. dan Prof. Dr. Masariam Bukit, M.Pd.
oleh:
Nama : Handi Harsap
NIM : 1103376
BAB I
GURU DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
A. Latar Belakang
Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan,
sebab berkaitan dengan arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya
menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Dalam suatu
lembaga pendidikan, salah satu tokoh yang memiliki peranan yang begitu penting
dalam pengembangan kurikulum
adalah guru. Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan yang terlibat
langsung dalam mengembangkan, memantau, dan melaksanakan kurikulum sehingga
pembelajaran dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Meskipun ilmu pengetahuan mengalami
perkembangan yang cukup pesat, tidak berarti menyurutkan peranan guru. Bahkan,
hasil – hasil teknologi tersebut akan menambah beban tugas dan tanggung jawab
guru. Oleh karenanya, guru sebagai pelaku utama pendidikan diwajibkan memenuhi
kewajibannya sebagai pendidik professional, dan sebagai pengembang kurikulum.
KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEJURUAN A. PENDIDIKAN KEJURUAN
oleh Yenita Nur Rahma
Menurut Rupert Evans (1978) pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu berkerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan dari bidang-bidang perkerjaan lainnya. Sedangkan menurut Undang – Undang No.2 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan perserta didik untuk dapat berkerja dalam bidang tertentu. Atau yang lebih spesifik dalam Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, yaitu: Pendidikan Menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. Dari definisi di atas dapat disimpulkan Pendidikan Kejuruan adalah Pendidikan yang mempersiapkan perserta didiknya untuk memasuki lapangan kerja.
PENGEMBANGAN KURIKULUM MUATAN LOKAL DALAM KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan yang
diampu oleh Prof. Dr. H.As’ari Djohar , M.Pd.
Oleh :
SURYATI
1101225
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Amanat
pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan
bahwa tujuan nasional adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk mewujudkan amanat
pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 itu, mencerdaskan
kehidupan bangsa merupakan faktor pendidikan yang sangat menentukan. Kualitas
sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa
mendatang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan
bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut hanya dapat
dihasilkan melalui penyelengaraan pendidikan yang bermutu.
PENERAPAN PRODUCTION BASED EDUCATION (PBE) PADA DIVISI TRAINING PT. ADVANCED TECHNOLOGY FACILITY UNTUK PELATIHAN ADVANCED CNC ROUTER
Diajukan untuk
memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Teknologi Kejuruan yang diampu
oleh
Prof. Dr. H. AS’ARI
DJOHAR, M.Pd
Oleh
Surya Gunawan
NIM: 1102664
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Sebuah perusahaan pada umumnya
mempunyai system pelatihan untuk membentuk karyawan agar sesuai dengan
kebutuhan atau semacam kurikulum. Perusahaan biasanya mengadakan pelatihan
untuk karyawan baru ataupun karyawan yang berubah tugas atau naik jabatan.
Pelatihan yang dilakukan dapat berupa: masa percobaan, on job training, dan
lain sebagainya. Pelatihan tersebut bertujuan untuk menyamakan persepsi
karyawan dengan tugas dari perusahaan, walaupun karyawan tersebut telah
dianggap mampu dalam mengerjakan tugas yang diberikan perusahaan terhadap
dirinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
